Karena Menang Di Sirkuit Saja Tidak Cukup


2-stroke-engines

Macantua.com – Perkembangan dunia otomotif roda 2 Indonesia memang berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini. Kalau kita flashback awalnya tepat di sekitar tahun 2000an dimana pabrikan mulai berani mencoba hal baru dengan memberikan sesuatu yang baru pula untuk konsumen.

suzuki-rgr-150-4

Sebelum tahun 2000an pabrikan motor berlomba menjadi yang tercepat. Menjadi yang ter-“wah” soal speed. Dan ajang balap dalam negeri saat itu menjamur. Piala piala banyak berseliweran, dimana ajang balap ga cuma itu itu aja. Sampai level kabupaten pun pun event balapan yang dinanti untuk menunjukkan dan membuktikan siapa yang tercepat. Maklum jaman itu mesin 2 tak masih meraja, poles dikit terbang…. kelas 4tak pun masih banyak mempertandingkan bebek bebek 100cc yang notabene saat ini hanya dipakai sebagai motor pekerja. Pokoknya kencang… Kencang, menang di sirkuit pasti penjualan OK… Mau Boros asal Raos…. Pasti Ok…

yamaha-mio-sporty

Masuk tahun 2000an, ada sebuah invasi matic pertama yang dilakukan oleh pabrikan Korea dan kemudian diikuti oleh Yamaha. Ini sebuah babak baru dunia otomotif roda 2 Indonesia dimana kepraktisan mulai jadi bagian dari pertimbangan. Ga cuma kencang, tapi praktis dan saat itu Yamaha sukses merajai penjualan matic bahkan secara total penjualan kejar kejaran dengan Honda saat itu. Dan penjualan ini bukan lagi soal siapa yang paling kencang di sirkuit. Tapi praktis, itu jadi opsi selanjutnya.

old-vixion-headlamp

Masuk ke akhir 2000an menuju abad 22 dimana kencang kembali menjadi poin utama dalam memilih motor. Karena ternyata di balik kepraktisan selama ini faktor kencang menjadi suatu yang sulit di dapat. Tapi di babak baru ini bukan hanya sekedar kencang yang diperhitungkan, konsumsi bahan bakar juga menjadi fokus para calon buyer. Dan Yamaha kembali membuat motor 150cc yang tak melupakan filosofi kencang saat itu tapi menyisipkan faktor irit di dalamnya. Ditambah lagi saat itu desain desain Yamaha selalu “advance” membuat Honda yang terkenal irit pun harus menyerah bersama desain “mature” nya.

Faktor kencang dan irit dikedepankan bersama desain yang advance. Honda pun mulai mengatur strategi dengan memberikan desain desain yang mulai menyaingi Yamaha. Karena ketiga faktor ini kini menjadi pilar utama pemikat para konsumen. Tapi kencang masa kini itu bukan kencang di sirkuit seperti masa lalu. Kencang di sini lebih kepada kondisi standar bukan hasil korekan. Dimana kini kemenangan di jalanan dengan kondisi standar jadi kebanggan.

cbr250r-mugen

Kondisi ini kini kembali bergeser, semua faktor di atas kini bertambah dengan satu sisi lagi bernama pride. Ga cuma kencang,ga cuma irit, tapi rasa bangga menggunakannya menjadi faktor penentu kemenangan dalam penjualan. Ane ingat kasus CBR250R yang menang secara irit, menang di atas sirkuit harus menyerah dalam penjualannya. Dan ini mungkin yang sama terjadi dengan YZF R25. Dimana YZF R25 melakukan hal yang sama dengan kesalahan Honda sebelumnya meski Yamaha punya sisi Kencang yang jauh lebih dari pada Ninja pun harus tewas secara penjualan. Dan hal ini diakui oleh manajemen Yamaha sendiri.

Last, Bagaimana perkembangan otomotif roda 2 Indonesia selanjutnya? Apakah Honda CBR250RR nanti mampu menembus jantung pertahanan ‘pride” sang Ninja? Atau akan bernasib sama dengan R25? Ingat. Sekarang bukan jaman tahun 90an dimana menang di sirkuit adalah segalanya. Karena menang di sirkuit pun butuh dana dari penjualan. Dan penjualan itu bukan hanya sekedar karena faktor menang si sirkuit.

<



Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Karena Menang Di Sirkuit Saja Tidak Cukup

  1. Motor kecoak says:

    Motor kencang tak ada guna kalau jokinya kacangan ,seperti ducati

  2. Uwii says:

    Nih artikel ide gw nih…hahaha bro rajendra ane jd asisten ya 😂

  3. Uwii says:

    Gurau je brooo

  4. biker ndeso says:

    suzuki RGR motor kuenceng dan gaul ….zaman msh aq skolah yg gak bisa kbeli.

  5. handoyo25 says:

    Kalau boleh saya tarik benang merah dari artikel diatas, itu adalah evolusi kebutuhan sepeda motor di Indonesia dalam 20 thn terakhir, dan hanya berlaku utk market di Indonesia 🙂

  6. metomnulis says:

    Jd inget jaman keemasan RGR, NSR, RX King. Kalo yamaha duluu pke nama apa ya yg 2tak tp bentuk mirip RGR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *