Polisi Dunia Lain Simpang 4 Sooko Mojokerto


macantua.com – Dapat cerita “polisi” yang tak pernah menilang dari Mojokerto. Ane cuma bisa Copas dari akun  facebook Info Lantas Mojokerto disini. Berikut tulisannya :

Polisi Dunia Lain Maskot Simpang Empat Sooko Mojokerto
Dialah Suharyanto yang dijuluki polisi dunia lain, polisi partikelir yang dengan suka rela mengatur lalu lintas di daerah Simpang empat Sooko Mojokerto.

Berbeda dengan polisi cepek yang biasanya kita lihat di tempat lain. Istilah polisi cepek adalah julukan untuk orang yang mengatur lalu lintas dengan mengharap orang yang lewat memberikan uang ala kadarnya.
Polisi beneran biasanya melarang operasi para polisi cepek itu karena dianggap malah mengganggu. Kadang-kadang motifnya bukan membantu mengatur keruwetan lalu lintas tapi semata-mata ingin mencari uang di jalanan. Tak ubahnya dengan apa yang dilakukan para peminta-minta dan pengamen jalanan.
Entah apa alasannya polisi tidak melarang kegiatan polisi dunia lain ini. Terbukti sudah hampir sepuluh tahun Suharyanto menjadi polisi partikelir yang mengatur lalu lintas daerah Simpang empat sooko. Mungkin karena ia tidak menerima uang ala peminta-minta seperti yang biasanya dilakukan polisi cepek. Mereka yang merasa kasihan dan memberi sedikit uang akan meletakkan di tempat tertentu di pojok perempatan. Jadi tidak nampak seperti minta imbalan.
Polisi justru menganggap polisi dunia lain ini sebagai mitra, semacan ‘banpol’ gitulah. Setiap bulan kabarnya bahkan polisi di Polresta Mojokerto mengumpulkan iuran sukarela untuk menggaji mereka.
Bermula dari sebuah mimpi, Suharyanto merasa diberi wangsit untuk mengatur kemacetan lalu lintas di daerah Brangkal Mojokerto sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya ia menjalani profesi polisi dunia lain itu sampai sekarang. Setiap hari pria berusia 50-an ini menjalani tugasnya di perempatan Sooko Mojokerto yang berjarak sekitar 8 kilo meter dari rumahnya.

Ia sendiri tinggal di desa Watestumpak, Kabupaten Mojokerto.
Banyak orang menganggap Suharyanto ini orang gila namun ia sendiri merasa waras. Apa yang dilakukan juga merupakan bentuk tanggung jawabnya menghidupi istri dan 8 orang anaknya. Jadi dari mana ia dianggap gila?

Justru Suharyanto ini sangat waras. Ia tidak pernah menilang pengguna jalan. Ia hanya mengharapkan rejeki tak lebih dari apa yang berhak ia terima.
Di jaman edan ini justru Suharyanto berbuat waras tapi nampak seperti orang edan. Berbeda dengan mereka yang punya kedudukan dan kursi jabatan, nampak waras tapi perbuatannya edan-edanan.(nik/ilm)
Polisi Dunia Lain Maskot Simpang Empat Sooko Mojokerto
Dialah Suharyanto yang dijuluki polisi dunia lain, polisi partikelir yang dengan suka rela mengatur lalu lintas di daerah Simpang empat Sooko Mojokerto.

Berbeda dengan polisi cepek yang biasanya kita lihat di tempat lain. Istilah polisi cepek adalah julukan untuk orang yang mengatur lalu lintas dengan mengharap orang yang lewat memberikan uang ala kadarnya.
Polisi beneran biasanya melarang operasi para polisi cepek itu karena dianggap malah mengganggu. Kadang-kadang motifnya bukan membantu mengatur keruwetan lalu lintas tapi semata-mata ingin mencari uang di jalanan. Tak ubahnya dengan apa yang dilakukan para peminta-minta dan pengamen jalanan.
Entah apa alasannya polisi tidak melarang kegiatan polisi dunia lain ini. Terbukti sudah hampir sepuluh tahun Suharyanto menjadi polisi partikelir yang mengatur lalu lintas daerah Simpang empat sooko. Mungkin karena ia tidak menerima uang ala peminta-minta seperti yang biasanya dilakukan polisi cepek. Mereka yang merasa kasihan dan memberi sedikit uang akan meletakkan di tempat tertentu di pojok perempatan. Jadi tidak nampak seperti minta imbalan.
Polisi justru menganggap polisi dunia lain ini sebagai mitra, semacan ‘banpol’ gitulah. Setiap bulan kabarnya bahkan polisi di Polresta Mojokerto mengumpulkan iuran sukarela untuk menggaji mereka.
Bermula dari sebuah mimpi, Suharyanto merasa diberi wangsit untuk mengatur kemacetan lalu lintas di daerah Brangkal Mojokerto sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya ia menjalani profesi polisi dunia lain itu sampai sekarang. Setiap hari pria berusia 50-an ini menjalani tugasnya di perempatan Sooko Mojokerto yang berjarak sekitar 8 kilo meter dari rumahnya.

Ia sendiri tinggal di desa Watestumpak, Kabupaten Mojokerto.
Banyak orang menganggap Suharyanto ini orang gila namun ia sendiri merasa waras. Apa yang dilakukan juga merupakan bentuk tanggung jawabnya menghidupi istri dan 8 orang anaknya. Jadi dari mana ia dianggap gila?

Justru Suharyanto ini sangat waras. Ia tidak pernah menilang pengguna jalan. Ia hanya mengharapkan rejeki tak lebih dari apa yang berhak ia terima.
Di jaman edan ini justru Suharyanto berbuat waras tapi nampak seperti orang edan. Berbeda dengan mereka yang punya kedudukan dan kursi jabatan, nampak waras tapi perbuatannya edan-edanan.(nik/ilm)

 Semoga jadi renungan….    


Contact : 

Email @ raza.rajendra@gmail.com 

BBM @ 54A0B190 

WA @ +6281223816399 

Twitter @raza_rajendra 

Line@ : @macantua

Advertisements
This entry was posted in berbagi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Polisi Dunia Lain Simpang 4 Sooko Mojokerto

  1. gsx_rider says:

    Iya suharyanto gak gila..yg gila itu polisi benerannya dan lebih gila dari polisi cepek..ngaku aja malu toh pak pakai mengkambing hitamkan polisi cepek…yang suka nilang kan kalian,wakakaka….maling neriakin maling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *