Antara Pemerintah, Sirkuit dan Balap Liar


wpid-balap-liar.jpeg

Macantua.com – Sebuah kasus kecelakaan di ajang balap resmi diinformasikan beberapa blogger kondang dari Jawa Timur dan media massa lainnya. Kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa di ajang resmi yang dihelat dalam sirkuit dadakan kota kabupaten. Miris memang mendengarnya, tapi inilah yang terjadi, dimana hobby Balapan (resmi maupun liar) sirkuit dan pemerintah seolah 3 hal yang sangat penting yang harus segera dibicarakan.

wpid-sonic-150-r-balap-road-race-2015-juara-muara-enim-sumatera-selatan.jpg.jpeg

Kalau boleh dibilang hobby otomotif entah itu hanya sekedar modifikasi body atau bahkan sampai eksplorasi mesin memang sebuah hobby yang banyak digandrungi anak muda di Indonesia sejak lama. Roda 2 sebagai kendaraan yang mayoritas dimiliki menjadi bahan eksperimen tangan dan otak terampil mereka. Hanya saja tidak semua kota punya tempat untuk menyalurkan hobby ini. Yah bisa dibilang hanya untuk sekedar mencoba performa hasil “oprekan” pun mereka para penghobby meski turun ke jalan umum! Beberapa pemerintah kota ada yang memiliki inisiatif menyalurkan hobby kawula muda ini dengan mengadakan road race resmi. Peminat pun membludak, hanya saja fasilitas kembali menjadi kendala. Akhirnya sirkuit pun dibuat dengan memanfaatkan jalan yang ada. Tidak ada standarisasi keamanan dan keselamatan yang “paten” baik untuk para pembalap, penonton bahkan crew (marshal) yang berada di lapangan. Semuanya serba instan! Semuanya serba “asalan”! Bahkan ambulance yang seharusnya standby pun diletakkan jauh dari arena balapan dan tidak langsung sigap ketika terjadi kecelakaan.

SPG Hot Yamaha sunday-race

Ready to RACE????? pict om Ari

Membangun sebuah sirkuit resmi memang bukan hanya sebatas uang modal satu atau dua juta. Tapi lebih dari milyaran! Di sini lah dilema yang dihadapi para pemerintah daerah dimana keinginan menyalurkan hobby para warga mudanya tetapi terganjal dana di APBN yang pas pasan. Di sisi lain saat sirkuit tersedia, para pecinta “oprek” pun terkadang merasa keberatan saat biaya berlatih di sirkuit tak sesuai kantong. Hal ini kembali menjadi dilema baru. Karena hobby ini bukan hanya milik orang kaya bermotor besar saja, tapi justru lebih banyak dari mereka adalah bibit muda dengan kantong pas pasan ala pelajar yang jiwanya masih labil. “Dari pada masuk (latihan) bayar segitu, mending buat oprek motor lagi aja” dalihnya.

AHM_1

So, di sini lah perlu dicarikan titik temunya. Dimana pemerintah bisa membantu menyalurkan hobby masyarakat mudanya, tapi bisa digunakan semua para pemuda guna menyalurkan hobbynya dengan biaya yang ga berat di kantong. Ambil contoh di Kota Cimahi Jawa Barat, sebuah arena latihan TNI setiap sorenya dijadikan sarana “berlatih” buat yang hobby oprek. Biaya masuk latihan pun tak semahal dibayangkan, tapi jangan bermain main, sekalinya berniat masuk WAJIB pakai peralatan penjamin keselamatan. Macam macam bisa berabe, berurusan dengan yang jaga dengan seragam loreng khas TNI. Minimal dengan seperti ini hobby bisa tersalurkan, dan penggunanya sadar akan keselamatan. Ga harus pada turun di jalanan yang berpotensi kecelakaan melibatkan pengguna jalan lainnya.

SPG Hot sunday-race Yamaha-r15-profesional

Podiumm….. pict : om Ari

Gimana? Pemerintah Daerah lain kira kira punya pikiran sama ga ya? Jangan di larang! Justru seharusnya di dukung dan di beri jalan serta arahan. Karena semakin dilarang jiwa muda mereka akan berontak. Kalau didukung dan berhasil dikancah dunia balap kan nama besar kota asalnya pun akan terbawa. Semoga nantinya ada pembalap dari Indonesia yang beraksi di ajang internasional dengan berjuta prestasinya bukan hanya berjuta sensasinya layaknya artis sinetron ya. Ciao……



Advertisements
This entry was posted in accident, berbagi, hobby, kencang, motor, race, safety and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Antara Pemerintah, Sirkuit dan Balap Liar

  1. ardiantoyugo says:

    mbulet… perlu fasilitas yang memadai, tapi sektor lain juga perlu fasilitas… mana yang diprioritaskan… mending ngopi disek… :mrgreen:

  2. bejoselamet says:

    harusnya tiap provinsi minimal harus ada 1 sirkuit permanen milik pemerintah daerah itu sendiri.

  3. iwan win says:

    Susah kang, selama msih ada budaya bancakan dana potong sana sini. Contoh proyek hambalang, bnyak Mafia ikut bermain dr kontraktor, anggota dewan, anggota kabinet dan entah Kayane msih banyak lagi soale blom slesai kn

  4. minimal drag strip dulu… ada lampu sma pencatat waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *