DOWN GRADE? COST REDUCTION? COST DOWN?




Cost Reduction

Macantua.com – Kalau bicara soal dunia otomotif pasti kenal sama istilah down grade alias penurunan kelas. Dan sejatinya semua pabrikan melakukan hal yang sama, entah itu pabrikan Amerika,Eropa atau Jepang sekalipun. Hanya saja di Indonesia Down grade itu melekat pada makna sebuah model yang sudah ada mengalami pengurangan kualitas, padahal sejatinya tidak begitu. Yuk kita bahas Down grade lebih lanjut.

Down Grade alias penurunan tingkat adalah sebuah usaha pabrikan untuk mendapatkan untung dengan cara menekan biaya pokok produksi meskipun dengan harga jual relatif sama atau malah lebih rendah. Kalau di dalam bahasa produksi biasanya disebut CR atau Cost Reduction atau Cost Down. Dengan cara ini pabrikan akan mendapatkan sebuah produk dengan biaya produksi rendah tetapi dengan penjualan yang sesuai harga pasar.

Apa saja sih yang bisa di down grade atau Cost Reduction? Nah kalau bicara soal ini biasanya pabrikan saat memulai sebuah project akan menetapkan pasar sebuah produk. nah target yang disasarnya seperti apa serta fitur apa saja yang akan disematkannya dalam produknya. Dari sinilah baru bisa dilakukan sebuah desain produk. Setelah desain dibuat, maka child parts atau bagian dari sang produk akan didesain satu persatu menurut fungsi dan estetikanya. Sejak inilah proses downgrade bisa dimulai. Untuk lebih detailnya hayu kita bahas.

Material, Hal pertama kali yang gampang untuk di downgrade atau di cost reduction adalah saat desain child parts inilah down grade bisa dilakukan. pemilihan material yang sesuai dengan fungsi serta mengurangi “sedikit kadar”nya akan berpengaruh besar pada process down grade alias cost down. Terlebih apabila produksinya massal. Seperti contoh kita lihat pada CBSF dan NVL dimana keduanya menggunakan STEP BELAKANG berbahan pipa hollow yang jauh lebih murah secara produksi tetapi fungsi akan sama dengan yang bermaterial Allumunium casting seperti pada Jupiter atau Supra.

Process dan Waktu Process, Process menjadi hal kedua yang bisa dilakukan untuk mereduksi biaya alias down grade or Cost Down. meminimasi proses sama dengan meminimasi waktu kerja. dimana dalam dunia produksi waktu 1 menit bahkan 1 detik sangat berharga. Bahkan di salah satu produsen otomotif watu 1 menit itu bisa mengeluarkan 1 unit produknya di ujung progress lane nya loh. Nah Logikanya dengan waktu kerja yang sama (anggap 8 jam kerja = 480 menit) bila satu produk punya Takt Time 12 menit maka dalam satu hari sang produk yang dihasilkan bisa mencapai 40 unit, tapi coba kalau Proses setiap stasiun kerjanya dikurangi menjadi 10 menit??? Keuntungan sebanyak 8 unit tambahan menjadi kelebihan yang bisa dinikmati perusahaan.

Yang selanjutnya adalah Pindah Supplier atau maker atau vendor. Banyak perusahaan otomotif maupun non otomotif melakukan hal ini. Misal pada awal kemunculan sang produk diimport langsung dalam bentuk barang jadi, kemudian demi mendapatkan keuntungan perusahaan menekan biaya dengan cara merakitnya sendiri dan mengimpornya secara per bagian. dan Akhirnya sang produk berpindah ke vendor atau supplier dari dalam negeri. Pemindahan supplier atau vendor ini bukan berarti menurunkan secara kualitas part loh. Hal ini biasanya dilakukan untuk memangkas biaya transport. Karena setiap part sudah mempunyai standar desain (baik material, shape atau bentuk, dan finishing). dan Pemindahan ke beda supplier ini biasanya langsung diawasi oleh principal perusahaannya langsung. jadi ga bisa sembarangan nunjuk supplier dong, dan you know what?, Jepang akan pindah ke Jepang lagi itu pasti hahahahahaa…

So, Intinya tidak ada usaha atau perusahaan yang mau UNTUNG SEDIKIT. Mau gamau mereka akan melakukan cara bagaimana meraup keUNTUNGan seBANYAK mungkin. Meskipun HARGA tetap atau terlihat MURAH bisa jadi beberapa bagian dari yang ane sebut di atas diKURANGi. Jadi siapa bilang produk baru ga bisa down grade??? Siapa bilang produk baru ga bisa cost down??? Siapa bilang produk baru ga bisa cost reduction??? Justru jawabannya SANGAT BISA!!!! Ciao…..

Yang ini juga menarik :


Thanks for Sharing.....

Baca juga :

Contact :

Email @ raza.rajendra@gmail.com

Twitter @raza_rajendra

Youtube @ Macantua Story

Instagram @razarajendra

tumblr Oldtiger

NOTE : BUKAN DEALER ATAU BENGKEL MODIFIKASI. HANYA BERBAGI INFORMASI







43 Comments

  1. bingung Om…..??

    cost reduction emang salah satu opsi nya down grade….
    cuma masalahe buat opsi upgrade ama down grade mesti ada grade awal nya,,,

      • Kirain ngebahas spesifik produk Om… Kan emang dah di set produk awal tuh maunya grade A , B atau C…. ntar baru dah mo upgrade apa down grade

        • wkwkwkwkwk…. itulah semua bisa diset dari awal, meski berpenampilan grade tertinggi bisa saja innernya alias jeroannya (sebagian atau salah satu) masih pake grade B bahkan C kan? dan semuanya bisa saja dilakukan buat mengejar taget harga yang diset pabrikan biar dapet keuntungan yang setimpal.

  2. hampir mirip dengan kualitas HP China om ada kelasnya dari grade A sampe grade ecek-ecek, liat aja HP-HP merk ternama kebanyakan made in China apa ya kualitasnya murahan kan tidak semua tergantung pesanan produsen, vendor cuma ikut aja sesuai pesanan. Kalo downgrade untuk costdown pasti lah ada gampangnye sih motor jaman jadul dan sekarang kualitasnya gimana, kalo dulu masih impor dari jepang part-partnya sekarang lokal downgrade lagi :mrgreen:

  3. Saya ambil contoh real aja kali ya? Yamaha NMAX pakai headlamp LED dan tail lamp bohlam. Nah dari urusan lampu aja sdh ada perbedaan. Yg bilang DG pasti bilang bohlam adl DG dari LED. Kalau misalnya dibalik begini : YIMM bilang bahwa sebenarnya standard lampu NMAX cukup pake bohlam aja, tapi mereka mau ngasih “value” pada konsumen dan memutuskan untuk melakukan UPGRADE headlamp menjadi LED!
    Piyo mas bro?

    • Ya bisa aja kalau “bahasa marketingnya” begitu sah sah saja, misalnya kaya kemarin Blue core padahal downgrade dari YMjet juga malah dibilang teknologi baru, ya tho? padahal secara biaya produksi, teknologi, serta sistem kerja lebih simple dari YMJET yang dulu gembar gembor disebut “teknologi motogp”. atau di Honda deh gausah jauh jauh bilang PGM FI bagus padahal kalau dilihat ga jauh sama sistem Injection konvensional dan akhirnya dibantai juga sama si ESP.

        • makanya di awal tulisan saya jelasin di paragraph pertama malahan :

          “Hanya saja di Indonesia Down grade itu melekat pada makna sebuah model yang sudah ada mengalami pengurangan kualitas, padahal sejatinya tidak begitu. “

      • Ung, PGM-FI sama eSP sepertinya berjalan berdampingan… eSP ya eSP jeroan mesin dan pendukungnya..sementara pasokan dan pengaturan bahan bakarnya pake PGM-FI. Jadi imo, kalau PGM-FI dibantai sama eSP keknya gak kena…karena dua-duanya berjalan berdampingan ung dan masih ada disemuanya.. beda kalau si PGM-FI nya emang bener2 ditinggalin dan gak kepake lagi.

        Ya mirip yamaha, Forged Piston dan DiaSil nya kan gak kegusur sama Bluecore… karena berjalan berdampingan..

        • lebih tepatnya sebenernya penyempurnaan mun bahas totalna mah mang, pertama PGMFI diluncurkan kan belum ada embel embel ESP. setelah ditunjang sama roller, saringan udat=ra baru, ini itu baru, baru deh disebut ESP

          • oia, tapi PGM-FInya tetep kepake, karena sistem injeksi honda dari dulu ya itu namanya, gak pernah ganti… meski sebenernya kinerja kek atau apanya diganti tapi tetep namanya teu rubah kekeke.. trademark lah, kaya maung = tiger misalna 😀

          • ih si mang kobay coba baca komen di atas “bahasa marketingnya” mang yang kebantai, si PGM FI ayeuna mah moal ditingali, lebih ningali ini ada emblem ESP engga, sama dengan Yamaha, motor baru teknologi baru pasti ada emblem BLUE Core….

  4. ini pasti terusan artikel terdahulu. gausah ngeles lah. namanya downgrade/ upgrade harus ada acuan produk terdahulu. masa iya barang baru di kelaanya dibilang downgrade. gausah kayak motogokil lah. keliatan bahasa sales banget. gara2 tutup tangki pake kunci dibilang downgrade ckckck

  5. Kalo DG yg saya liat sebagai konsumen ya harus ada parameter nya dahulu yaitu produk sebelumnya. Ane gak bisa bilang produk baru itu DG kalo gak ada pembanding nya lawong bukan org produksi toh? Misal aja xeon rc DG swing arm dari xeon karbu, velg motor AHM sama YIMM yg udah beralih dari enkei. Kalo ada yg bilang monocross r25 sama tutup tangki nmax itu DG ya ane bingung lawong gk ada paramater grade asli. Kalo dari produsen seperti yg dijelasin om lebayogas mgkin lebih ke CR sama CD. Ini dari sisi konsumen aja ya om

  6. Cost Reduction saya setuju, dan pastinya setiap pabrikan akan berusaha semaksimal mungkin untuk CR ini. Kenapa demikian? ya tidak lain untuk mengejar margin profit sebesar mungkin.
    Langkah2 untuk mencapai CR ini banyak, bisa dengan efisiensi di sektor produksi, promosi, pengadaan bahan baku, sampai ke produk itu sendiri (downgrade kah?). Nah, disinilah saya agak berbeda persepsi dgn bro macantua mengenai definisi Down Grade (DG), sebenarnya persis banget yang ditulis oleh bro java36.
    Kenapa saya menolak produk baru dikatakan DG? tidak lain karena belum ada (atau tidak ada, karena ketidaktahuan kita sebagai konsumen dari kebijakan internal pabrik) “parameter” atau “standar baku” yang secara umum bisa kita pakai sebagai patokan mutu/kualitas suatu produk, apapun itu produknya tidak terbatas di otomotif saja.
    Makanya saya kasih contoh Old Vixion (OVI) dan New Vixion Lightning (NVL), ada benang merahnya, secara umum kita akan sepakat bahwa batasan kualitas terendah/terbaik yang diberikan oleh Yamaha adalah apa yang ada di OVI (mesin, lampu, rantai, velg, chasis, tangki, dsb). Kalau produk terkini yaitu NVL kualitas mesinnya lebih buruk dari OVI maka itu adalah DOWN GRADE. Dan sebaliknya pula bila lampu NVL lebih baik dari OVI, maka itu adalah UP GRADE. Saya kira sampai disini sudah sangat jelas dan gamblang… OK?
    Contoh kedua : Yamaha NMAX, apakah bisa kita menduga adanya praktek DG dari pabrikan? parameternya apa? kalau dibilang DG lantas apanya yang di DG? NMAX belum pernah diproduksi sebelumnya bahkan oleh Yamaha Japan sekalipun. Okelah dalam proses rancang bangun motor yang mungkin dari awal sudah ditetapkan sebagai motor kelas mid-high tapi harga low-mid, pasti akan memusingkan para desainer motor ini karena dimanapun berlaku prinsip “ono rego ono rupo” alias kalau mau bagus ya pasti mahal… Dan saya yakin mereka akan mengambil langkah kompromi dengan mengganti beberapa parts motor (misalnya nih semula pakai plat tebal 3mm trus diganti 2,5mm saja demi CR). Bagi saya ini bukan DG, sekali lagi bukan DOWN GRADE. Berarti bahwa standar kualitas motor ini sudah ditetapkan sebesar 2,5mm. Dan patut diingat bahwa hanya dengan 2,5mm pun motor sudah dihitung durabilitasnya. Bila pada produksi batch selanjutnya ternyata ditemui plat kurang dari 2,5mm maka disitulah terjadi DG, dan kita sebagai konsumen layak untuk mempertanyakan kualitas produk itu.

    Maaf kalo nulisnya kepanjangan, semoga berkenan 🙂

  7. omi macan tua masih belum paham jg.. bikin artikel lagi masalah DG.. di doakan saja semoga lekas paham.. dan cepat pintar supaya bisa jadi bloger berkelas Amiin
    jangan sampe seorang bloger terendus menjadi bloger jadi2an alis FB..
    kalo FB yg BC maklum.. kalo orang yg ngakunya bloger suka BC dan ga paham tentang artikel yg di tulisnya.. malah tanda tanya ?….

  8. kalo menurut saya, downgrade beda arti dengan cost reduction. dilihat dari artinya aja udah kelihatan. downgrade=penurunan kualitas dan hampir pasti biaya/cost juga turun, sedangkan cost reduction=penurunan/penekanan biaya tapi belum tentu kualitas turun

    sebelum menentukan apakah produk itu downgrade atau tidak, harus ada parameter pegangan awal yang dijadikan rujukan atau tolok ukur. selama itu tidak ada, maka tidak bisa justifikasi kalo produk (secara umum) itu downgrade

    artikel ini sepertinya lebih tepat/mengarah pada kualitas suatu parts, bukan terhadap suatu produk jadi. cmiiw

  9. Saya mah setuju aja, soale tau bgt yg punya blog ini kerjaannya emang memproduksi kendaraan… Masalah penggunaan istilah downgrade yg sebelumnya banyak diartikan sebagai “penurunan kelas” dgn adanya artikel ini akan banyak yg tercerahkan (kecuali fansboi yg sudah kepalang benci dgn artikel sebelumnya). Trs skedar menekankan bahwa parameter awal ya sudah dijelaskan bahwa setiap produk memiliki perencanaan matang mengenai setiap unsur yg dimilikinya. Karena profesi sy sbgi admin yg biasa dgn ATK saya contohkan : sebuah printer HARUSNYA memakai merk dan jenis tertentu, nah untuk bs menghasilkan jumlah cetakan yg sama namun dgn modal yg lebih kecil maka tinta printer tsb menggunakan tinta yg bkn mnjadi stdnya. Jgn Begitu menurut saya mang. Trs bagaimana jika urusannya roda dua??? Contohkan rekomendasi pabrikan adalah merk A, namun pemilik motor memilih merk B karena sebuah alasan, simply “ah oli ini jg bgs buat mtor saya, mayan gocengnya buat beli rokok”… Gitu kali ya??? Makasih infonya mangs.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.