Lokal vs Import




image

Macantua.com – Hola sobat macantua… Apa kabar??? Maaf dalam beberapa hari terakhir macantua.com ga publish artikel. Maklum kesibukan kerjaan ditambah rasa malas nulis dan kehabisan ide bikin artikel tersendat. Beberapa bulan atau hari kemarin atpm di negeri kita ini meluncurkan produk produk barunya yang diadopsi dari pasar internasional. Yah sebut saja R15 dan CBR150 sebagai contohnya. Produk produk ini mulai diproduksi dari pabrikan dalam negeri dengan standar aseli negara asalnya. Tapi permasalahan muncul saat mindset orang Indonesia berpendapat Import selalu lebih baik.

image

Ada benarnya saat sebuah barang diimport itu mempunyai kualitas tinggi. Berdasarkan pengalaman pribadi kualitas part yang akan dieksport selalu melalui ekstra gerbang pengendalian kualitas. Bahkan cara pengechekan kualitas pun rata rata 100% check alias tidak melalui pengecheckan acak alias random. Tapi apakah kualitas produk lokal bisa dipastikan lebih rendah dari barang yang diimport???? BELUM TENTU. Itu jawaban ane. Kualitas part sendiri tergantung dari beberapa items penunjang. Dan masin masing items ini menjadikannya sebuah kesatuan utuh yang berujung pada kualitas part itu sendiri.

Material, faktor ini memang selalu jadi pembanding utama antara lokal dan import part. Padahal setau ane apabila part itu memiliki part number yang sama, pada gambar teknik atau drawing tercantum material untuk part bersangkutan. Dan material ini harus melalui beberapa uji baik komposisi maupun fisik. So, selama masih satu (sama) part number kemungkinan besar secara material komposisi material akan sama. Kecuali, ada oknum oknum yang sengaja mengurangi komposisi material demi keuntungan semata.

Process. Poin kedua ini yang menurut ane menjadi faktor penentu. Dimana setiap pabrikan belum tentu memiliki layout work station serta cara kerja yang tercantum dalam SOP alias standard operational procedure sama. Kalaupun mengadopsi akam tetap disesuaikan dengan kondisi masing masing pabrikan. Nah perbedaan perbedaan inilah yang bisa menjadikan finishgood sedikit berbeda.

Handling and packaging. Kedua hal ini saling berketerkaitan dimana handling dan perlakuan berupa packaging akan mempengaruhi kualitas produk. Handling yang buruk ditambah cara packaging part yang kurang tepat tentu saja akan menyebabkan part menjadi NG alias Not Good.

Last but so important : Quality gate. Quality control yang dilakukan di quality gate dilakukan untuk menjamin part yang masuk ke dalam proses produksi. Dalam produksi masal biasanya pemeriksaan kualitas dilakukan secara acak. Dan berbeda dengan part yang akan di eksport biasanya pemgecheckan dilakukan kepada seluruh part yang masuk. So pasti akan lebih terjamin dan minim kelolosan part reject dong. Hanya saja pada prakteknya di produksi masal banyak ditemukan “pemain” yang menghalalkan segala cara demi partnya masuk dan diterima.  Alhasil part reject pun masuk ke line produksi dan tentu saja finishgood pun berstatus “NG yang diloloskan”. Dan ini dilakukan hanya untuk “salam tempel” dari sang supplier parts.

Sejujurnya standard kualitas di negeri kita lebih baik atau sama dari import. Hanya saja kelakuan beberapa oknum yang hendak mencari keuntungan pribadi mematahkan aturan standar tinggi yang sidah ditetapkan. Yah inilah negeri kita…. Percaya ga percaya semua itu terjadi….

Thanks for Sharing.....

Baca juga :

Contact :

Email @ raza.rajendra@gmail.com

Twitter @raza_rajendra

Youtube @ Macantua Story

Instagram @razarajendra

tumblr Oldtiger

NOTE : BUKAN DEALER ATAU BENGKEL MODIFIKASI. HANYA BERBAGI INFORMASI

Leave a Comment







15 Comments

    • Kayanya terkait sama si pespa nih…. Gini om. Ga semua import part itu msk standard quality kita… Sometimes. Kualitas service part bisa jd dibawah rata rata OEM yg melekat pada motor….

Leave a Reply to cadoxs Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.