Ga Dimana-mana "Oknum" Polisi : SAMA SAJA!!!!




image

macantua.com – Flashback beberapa hari lalu di suatu pagi saat berangkat ke tempat kerja ane di daerah Chonburi saat badan sudah malas diajak untuk bangun dan bekerja. saat kantuk mengalahkan segalanya (lebay saeutik ah). Pak Boss dan Rekan ane yang asal Gombong tertidur selama perjalanan yang harus ditempuh selama 1jam lebih dari Sukhumvit. Bersisa ane dan Mr. Noravut yang asik membejek Hi Ace 130kmph di lengangnya Tol alias Motor way. Tiba tiba….. Sesosok manusia berbaju coklat melambaikan tangannya tanda tidak kuat meminta kami meminggirkan Hi Ace tunggangan kami. Strobo dan sirine dihidupkan beberapa kali. dan akhirnya sang driver pun mengurangi kecepatan dan menuju tepian jalan. Dengan sigap Mr. Noravut kluar dengan berbekal selembar berwarna merah (100bath) digulung ditangan kanannya. Tak lama berselang ia pun kembali lagi dan lanjut perjalanan. Saat ane tanyakan apakah ditilang, ia malah nyengir getir sambil bilang “100bath”. What??? beres??? 100bath???
Bukan bicara soal nominal yang hanya 100bath (sekitar rp.30000) yang sedikit, tetapi liat aksi sang “oknum” berseragam coklat yang menjual “hukum” dengan murahnya…. Sama halnya dengan di Indonesia, hanya saja nilai nominalnya mungkin bisa lebih besar. Budaya Sogok menyogok, awal mula yang berujung budaya korupsi, sepertinya sudah lumrah di dunia penegakan hukum di jalan raya. Bahkan kalau boleh dibilang penghasilan dari “jarahan” ini lebih bahkan jauh berkali kali dari gaji pokok mereka. Ga heran jika banyak kalangan.membenci bahkan “nyumpahin” kelakuan para oknum ini.
Yang ane sesali adalah, bagaimana bisa uang hasil “menjarah” dibawa pulang dan dinafkahkan untuk keluarga. Istri dan anak dipaksa untuk menikmati hasil “usaha haram” sang suami. Bagaimana bisa setiap sen uang haram tersebut mengalir dalam setiap butiran tetes darah. Nah, hal ini yang memungkinkan banyak  pikiran negatif yang terlintas di masyarakat “pantas aja anaknya badung atau pantas aja istrinya serong orang makan duit haram” selalu terlontar. Pandangan negatif ini seolah menyamaratakan kelakuan setiap pasukan seragam coklat. Walau pada kenyataannya ga semua bertingkah sama.
Last, apakah budaya ini akan tetap ada? apakah kita mau mulai dari diri kita masing masing untuk tidak memberikan “upeti jalan raya” saat menghadapi pasukan seragam coklat dijalanan? Bisakah pemimpin pasukan coklat di negeri ini melakukan tindakan sanksi yang berat untuk para pelaku penerima “upeti”??? Sehingga bangsa ini bisa bebas dari budaya ini??? Gimana menurut ente sob???

any advice????


Thanks for Sharing.....

Baca juga :

Contact :

Email @ raza.rajendra@gmail.com

Twitter @raza_rajendra

Youtube @ Macantua Story

Instagram @razarajendra

tumblr Oldtiger

NOTE : BUKAN DEALER ATAU BENGKEL MODIFIKASI. HANYA BERBAGI INFORMASI







12 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.